adab buang air besar dan adab buang air kecil

Bersuci setelah buang air besar dan air kecil disebut dengan istilah istinja. Istinja dalam setiap buang air besar dan air kecil hukumnya wajib bagi semua manusia, karena itulah yang membedakannya dengan hewan. Jika seseorang tidak membersihkan kemaluan atau anusnya setelah buang air besar atau air kecil, maka tidak ada beda antara dia dengan hewan.

Beristinja itu paling utama memakai tiga batu kemudian diikuti dengan air. Namun, jika ingin meringkasnya, maka boleh memilih salah satunya antara memakai tiga batu atau air, tergandung situasi dan kondisi. Jika ingin meringkas dengan pilihan yang pailng utama, maka hendaknya bersuci dengan memakai air.

Rasulullah saw mengajarkan adab membuang air besar maupun air kecil. Hal ini dijelaskan dalam beberapa haditsnya antara lain:

1. Dilarang menghadap kiblat atau membelakanginya

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ أُعَلِّمُكُمْ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلِ الْقِبِلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا وَلَا يَسْتَطِبْ بِيَمِيْنِهِ وَكَانَ يَأْمُرُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ وَيَنْهَى عَنِ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ (رواه أبو داود)

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya aku ini bagi kalian seperti seorang bapak, aku mengajar kalian, apabila seorang di antara kamu buang air besar, maka janganlah ia menghadap kiblat dan membelakanginya, serta jangan bersuci dengan tangan kanannya. Dan beliau memerintahkan supaya bersuci dengan tiga batu, beliau melarang memakai kotoran dan tulang yang rapuh.” (HR. Abu Daud)

Larangan buang air besar atau air kecil menghadap kiblat ditujukan kepada orang berada di tempat terbuka, tetapi bagi orang yang berada di tempat tertutup seperti di toilet maka tidak dilarang.

2. Dilarang buang air besar atau air kecil pada air yang tegenang atau tidak mengalir

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ  (رواه أبو داود)

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw beliau bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian kencing di dalam air yang tergenang (tidak mengalir)  kemudian dia mandi dari air itu.” (HR. Abu Daud)

3. Dilarang buang air besar dan air kecil di bawah pohon (naungan)

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ التَّقُوْا الْمَلَاعِنَ الَّثلَاثِ الْبَرَازِ فِى الْمَوَارِدِ وَالظِّلِّ وَقَارِعَةِ الطَّرِيْقِ (رواه بن ماجه)

Dari Mu’az bin Jabal ra, Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Takutlah kalian terhadap tiga hal yang menyebabkan laknat: membuang air besar di tempat menuju pengambilan air, tempat berteduh (di bawah pohon), serta di tengah-tengah jalan.” (HR. Ibnu Majah)

4. Dilarang buang air besar dan air kecil pada jalan yang dilalui orang

حَدَّثَنَا جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ  الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالتَّعْرِيْسِ عَلَى جَوَادِّ الطَّرِيْقِ وَالصَّلَاةَ عَلَيْهَا فَإِنَّهَا مَأْوَى الْحَيَّاتِ وَالسِّبَاعِ وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ عَلَيْهَا فَإِنَّهَا مِنَ الْمَلَاعِنِ (رواه بن ماجه)

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: Hindarilah oleh kalian tempat peristirahatan orang musafir di jalan yang luas, sebab itu adalah tempat ular-ular berbisa dan hewan-hewan buas. Hindari pula membuang hajat di tempat itu, sebab itu termasuk perbuatan yang mendapat laknat.” (HR. Ibnu Majah)

5. Dilarang buang air besar dan air kecil pada lubang tanah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ فِي جُحْرٍ (رواه النسائي)

Dari Abdullah bin Sarjis bahwa Rasulullah saw bersabda: Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian buang air kecil di lubang.” (HR. Nasa’i)

6. Dilarang berbicara ketika buang air besar atau air kecil

Rasulullah saw melarang umatnya berbicara ketika buang air besar atau air kecil, walaupun itu adalah ucapan salam. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang berbunyi:

عَنِ بْنِ عُمَرَ قَالَ مَرَ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُوْلُ فَلَمْ يُرَدُّ عَلَيْهِ قَالَ أَبُوْ دَاوُدَ وَرُوِيَ عَنِ بْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَيَمَّمَ ثُمَّ رَدَّ عَلَى الرَّجُلِ السَّلَامَ (رواه أبو داود)

Dari Ibnu Umar ra dia berkata: Suatu ketika ada seorang laki-laki melewati Nabi saw yang sedang buang air kecil, kemudian dia memberi salam, namun beliau tidak menjawabnya. Dalam suatu riwayat dari Ibnu Umar dan lainnya: Bahwa Nabi saw bertayammum, kemudian beliau menjawab salam orang tersebut.” (HR. Abu Daud)

7. Larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika buang hajat

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى قَتَادَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ  الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلَاءَ فَلَا يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ (رواه النسائي)

Dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang dari kalian masuk ke toilet (WC) maka janganlah menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya.” (HR. Nasa’i)

8. Do’a masuk dari toilet (WC)

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُوْلُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءِ قَالَ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ (رواه البخاري)

Dari Abdul Aziz bin Shuhaib ia berkata, Aku mendengar Anas ra berkata: Jika Nabi saw masuk ke dalam WC, maka beliau berdo’a: “Allahumma inni a’uzubika minal khubutsi wal khaba’its” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laiki-laki dan setan perempuan).” (HR. Bukhari)

9. Do’a keluar toilet (WC)

غُفْرَانَكَ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنِّي الْاَذَى وَعَافَنِيْ

Aku mohon ampun kepada-Mu, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku penyakit dan maafkanlah aku.”

10. Do’a beristinja

اَللَّهُمَّ حَسِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ وَطَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ

Ya Allah, peliharalah kemaluanku dari kejahatan-kejahatan dan sucikanlah hatiku dari penyakit munafiq.”