adab sedang makan

Ada beberapa adab bagi seorang muslim ketika sedang makan antara lain:

  1. Menikmati makan dan minum menggunakan tangan kanan

Diceritakan dari Umar bin Abi Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda tentang makan menggunakan tangan kanan yang berbunyi:

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ كُنْتُ فِى حُجْرِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِى الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهِ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

‘An ‘Umarobni Abi~ Salamah qo~la, kuntu fi hujri rosulilla~hi sollallo~hu ‘alaihi wasallam waka~nat yadi tati~syu fishshohfati faqo~la li ya~ gula~m sammilla~h wa kul biyami~nika wa kul mimma~ yali~ka

Artinya:

Dari Umar bin Abi Salamah ia berkata: Dulu saya pernah dalam asuhan Rasulullah saw. Suatu hari pada saat makan tiba, tangan saya terulur hendak menjangkau nampan yang berisi makanan. Tetapi Rasulullah saw berkata: Hai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu!.”  (HR. Muslim)

Dalam hadits lain Ibnu Umar menceritakan bahwa rasulullah saw bersabda:

عَنِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَالْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ فَإِنَ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

‘Anibni ‘Umaro anna rosulallohi sollallo~hu ‘alaihi wasallam qo~la, iza~ akala ahadukum falya’kul biyami~nihi wa iza~ syariba falyasyrob biyami~nihi, fa innasysyaitho~na ya’kulu bisyima~lihi wa yasyrob bisyima~lihi

Artinya:

Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu makan, maka hendaklah makan dengan tangan kanannya, dan apabila minum, maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena syetan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)

  1. Bersedia menunggu makanan yang masih sehingga menjad dingin

Makanan yang masih panas hukumnya makruh untk dimakan karena masih mengandung panas setelah dimasak. Jika makanan yang masih panas dimasukkan ke dalam perut, maka akan menimbulkan pembenturan suhu tubuh dengan panasnya makanan sehingga akan menyisakan penyakit yang tidak terduga.

Sebagai muslim yang berfikir, hendaknya tidak makan makanan yang masih panas, yaitu mendinginkannya terlebih dahulu sehingga dapat dicerna dengan baik, dan menghasilkan kondisi yang baik pada badan.

  1. Tidak bermain-main dengan makanan

Membuat makanan menjad mainan merupakan akhlak tercela bagi umat Islam, karena umat Islam diajarkan oleh Rasulullah saw untuk menghormati makanan, tidak saling melempar dengan makanan. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang berbunyi:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةَ أَحَدِكُمْ فَلْيَمْسَحْ عَنْهَا التُّرَابَ وَالْيُسَمِّ اللَّهَ وَلْيَأْكُلْهَا

‘An Anasin qo~la, qo~la rosulullohi sollallo~hu ‘alaihi wasallam, iza~ saqothot luqmata ahadikum falyamsah ‘anhaththuro~ba wal yusammilla~ha wal ya’kul

Artinya:

Dari Anas ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Apabalia sesuap makanan kalian terjatuh, hendaklah ia membersihkan debu (yang melekat) padanya dan hendaknya ia menyebut nama Allah lalu memakannya.” (HR. Ad-Darimy)

  1. Tidak terburu-buru memasukkan makanan yang masih panas

Mengenai makanan yang masih panas, Rasulullah saw mengajarkan untuk tidak memakan makanan yang masih panas dan berdampak mengganggu kesehatan. Makanan yang sudah tidak panas lagi mempunyai keberkahan tersendiri. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا أُتِيَتْ بِثَرِيْدٍ أَمَرَتْ بِهِ فَغُطِّيَ حَتَّى يَذْهَبَ فَوْرَةُ دُخَانِهِ وَتَقُوْلُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ هُوَ أَعْظَمُ لِلْبَرَكَةِ

“’An Asma binti Abi Bakrin annaha~ ka~nat iza~ utiat bitsari~din amarot bihi faguththia hatta yazhaba faurotu dukho~nihi wa taqu~lu inni~ sami’tu Rosu~lulla~hi sollallo~hu ‘alaihi wasallam yaqu~lu: huwa a’zomu lil barokati

Artinya:

Dari Asma binti Abu Bakar bahwa jika ia diberi tsarid, maka ia memerintahkan supaya ditutup hingga panas dan asapnya hilang, dia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Hal itu lebih besar keberkahannya.” (HR. Ad-Darimy)

  1. Tidak menyisakan makanan di piring

Makanan yang tersisa karena rakus menumpuk makanan yang bukan porsinya adalah perilaku tercela dalam pandangan Islam. Seorang muslim diajarkan untuk tidak menyisakan makanan yang ada di piringnya. Oleh karena itu ambillah makanan secukupnya saja sehingga tidak menjadi tersisa apabila sudah tidak muat diperutnya lagi. Orang bijak berkata “lebih baik menambah makanan dari pada bersisa karena rakus.”

  1. Menyantap makanan yang ada di pinggir terlebih dahulu

Menyantap makanan hendaknya dimulai dari pinggir terlebih dahulu, bukan dari tengah kemudian ke pinggirnya. Rasulullah saw menegaskan dalam haditsnya yang berbunyi:

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِجَفْنَةٍ أَوْ قَالَ قَصْعَةٍ مِنْ ثَرِيْدٍ فَقَالَ كُلُوْا مِنْ حَافَاتِهَا أَوْ قَالَ جَوَانِبِهَا وَلَا تَأْكُلُ مِنْ وَسَطِهَا فَإِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ فِي وَسَطِهَا

‘Anibni ‘Abba~sin anna rosulallohi sollallo~hu ‘alaihi wasallam utiya bijafnatin auw qo~la qos’atin min tsari~din faqo~la qulu~ min ha~fa~tiha~ auw qo~la jawa~nibiha~ wala~ ta’kulu min wasathiha~, fa innal barokata tanzilu fi~ wasathiha

Artinya:

Dari Ibnu Abbas ra bahwasanya Rasulullah saw pernah diberi semangkok tsarid, kemudian beliau bersabda: Makanlah dari pinggirnya. Atau beliau bersabda: Dari samping-sampingnya dan janganlah kalian makan dari tengahnya, karena berkah turun di tengahnya.” (HR. Ad-Darimy)

  1. Tidak bercanda berlebihan selama makan

Bercanda yang berlebihan ketika makan akan mengganggu konsentrasi makanan masuk ke dalam perut dengan baik. Orang yang bercanda berlebihan ketika sedang makan akan mengakibatkan tersedak dan mengganggu konsentrasi orang lain yang sedang menikmati makanan.

  1. Berhenti makan sebelum kenyang

Rasulullah saw adalah orang yang paling dekat dengan Allah swt, jika makan beliau berhenti sebelum kenyang. Ada manfaat dibalik makan dengan forsi sedehana yaitu menjaga perut tidak telalu penuh dengan makanan sehingga akan menuntupi semua ruang perut tanpa menyisakan bagian udara di dalamnya, padahal Rasulullah mengajarkan umatnya untuk membagi pertnya menjadi tiga bagaian yaitu: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernapasan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اَلْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَة أَمْعَاءٍ

‘An Abi Hurairota anna rosu~lallo~hi shollallo~hu ‘alaihi wasallah qo~la, al-mukminu ya’kulu fi~ mi’an wa~hidin wal ka~firu ya’kulu fi~ sab’ata am’a~in

Dari Abu Hurairah ra ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Orang mukmin makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.” (HR. Ad-Darimy)