Alat Bersuci

Alat Bersuci

Alat atau barang yang dipakai untuk bersuci dibagi menjadi dua macam yatitu: Pertama, alat bersuci yang berbentuk benda padat seperti: batu, kayu yang kering, dau yang kering, tanah kering, tisu, dan benda suci yang dapat menyerap kotoran dan mampu membersihkannya. Kedua, benda yang berbentuk cair seperti air.

Benda padat seperti batu dapat dipakai bersuci dengan kriteria beberapa kriteria: batu itu dapat menyerap kotoran, memiliki beberapa sisi, mudah dilakukan bersuci dengannya. Bersuci dengan batu atau benda padat lainnya boleh dilakukan dalam keadaan darurat yaitu dengan menyentuhkan sisinya dengan kotoran sehingga dapat diserap dengan baik. Jika belum bersih dengan satu batu atau lainnya, maka ditambah lagi sampai benar-benar bersih.

Air yang boleh digunakan bersuci dari hadats besar dan hadats kecil ada 7 (tujuh) macam yaitu:

  1. Air hujan.

  2. Air laut.

  3. Air sungai.

  4. Air sumur.

  5. Air dari mata air.

  6. Air salju.

  7. Air embun.

Ketujuh air yang disebutkan di atas boleh digunakan bersuci dengan beberapa kriteria yaitu:

  1. Air yang suci keadaannya dan dapat menyucikan kepada yang lainnya seperti hadats besar, hadats kecil, dan dapat menyucikan benda-benda lain disebut air mutlak. Contoh air mutlak adalah air hujan, air laut, dan air embun. Adapun air sungai,air sumur, air mata air, dan air salju dapat dikatakan air mutlak apabila belum terkontaminasi dengan yang lain, sehingga berubah kemutlakannya.

  2. Air yang suci keadaannya dan dapat menyucikan kepada yang lainnya, tetapi makruh (waspada) digunakan disebut air musyammas. Air musyammas pada intinya adalah air yang dipanaskan karena natural seperti panas matahari atau sengaja dipanaskan seperti air yang direbus. Air semacam ini boleh digunakan mencuci pakaian yang terkena na’jis, perabotan dan barang lainnya yang akan dibersihkan, namun agak diberikan peringatan (hati-hati) untuk pemakaian pada badan. Air musyammas tidak menjadi makruh digunakan untuk menyucikan badan seperti untuk mandi atau berwudhu’ apabila air tersebut telah menjadi dingin kembali.

  3. Air yang suci keadaannya tetapi tidak dapat menyucikan yang lainnya disebut air musta’mal. Jenis air ini tidak dapat digunakan dalam hal ini mandi wajib, berwudhu’, dan menyucikan na’jis, karena statusnya musta’amal (telah dipakai). Contoh, air dalam ember yang sudah dipakai mencuci tangan yakni dengan memasukkan tangan ke dalamnya, maka status airnya menjadi musta’mal atau air yang telah terpakai. Termasuk musta’mal air yang berada dalam wadah seperti bak air di kamar mandi yang tidak tertutup. Jika seseorang mandi, berwudhu’, membasuh tangan, membasuh kaki, dan lainnya di kamar mandi, kemudian airnya jatuh ke dalam bak air tersebut, maka airnya telah berubah status menjadi air musta’mal. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan untuk membuat bak penampungan air itu lebih tinggi dari merunduk (ruku’) dan menutupnya rapat-rapat, airnya dapat dialirkan memakai kran. Boleh juga memakai kran yang rendah yang airnya pasti musta’mal ketika dalam keadaan hendak berwudhu’ kran dialirkan airnya dan berwudhu’ lewat krannya tanpa mengambil air langsung dari bak penampungan air yang telah musta’mal tersebut. Jika ingin mandi wajib, maka kran disambung dengan selang kemudian dialairkan ke seluruh anggota badan. Air musta’mal dapat dipakai untuk menyucikan barang yang tidak na’jis seperti mencuci perabotan dapur dan tidak terkena na’jis. Termasuk air yang suci zatnya tetapi tidak dapat menyucikan (mandi wajib, wudhu’, dan na’jis) yaitu air kelapa, air teh, air kopi, air jus, dan jenis air lain yang telah tercampur kemurnian airnya.

  4. Air yang dijatuhi na’jis yaitu air yang dijatuhi na’jis ke dalamnya dan volume airnya kurang dari dua qullah atau cukup dua qullah tetapi berubah. Na’jis yang jatuh pada air yang berukuran dua qullah atau lebih, tetapi tidak mengakibatkan berubahnya zat (warna, bau, dan rasanya), maka tetap boleh menggunakannya untuk bersuci. Adapun ukuran dua qullah itu adalah 500 (lima ratus) liter ukuran Bagdad. Menurut ukurannya literan Bagdad itu berbeda dengan literan pada umumnya, maka dua qullah akan berbeda hitungannya. Jika diukur dengan hasta, maka ulama’ mazhab Syafi’i berpendapat bahwa dua qullah itu adalah air yang memenuhi wadah berukuran 1,25 hasta (panjang), 1,25 hasta (lebar), dan 1,25 hasta (tinggi). Berdasarkan pendapat ulama’ kontemporer bahwa ukuran dua qullah itu adalah air yang memenuhi wadah berukuran 60 cm (panjang) x 60 cm (lebar) x 60 cm (tinggi) = 216.000 cm atau 216 liter karena setiap 1.000 cm = 1 liter air.