Fungsi Thaharah

Fungsi Thaharah (Bersuci)

Bersuci dalam ajaran Islam tidak sekedar membersihkan diri dari berbagai kotoran atau na’jis, tetapi merupakan bagian dari keimanan seorang muslim. Rasulullah saw bersabda:

اَلطَّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ (رواه مسلم)

Kesucian itu sebagian dari pada iman”. (HR. Muslim)

Hadits tersebut memerintahkan betapa pentingnya kebersihan bagi orang-orang yang beriman. Orang akan dianggap beriman yaitu menunaikan sebagian imannya ketika ia mengamalkan perilaku bersih dan suka kepada kebersihan dalam kehidupannya sehari-hari. Begitulah pentingnya kebersihan sehingga menjadikannya sebagai satu sendi dari sendi-sendi agama Islam. Rasulullah mengajarkan untuk hidup bersih dalam segala hal terutama dalam membasuh bekas kencing, seperti yang diceritakan dari Anas bin Malik yang berbunyi:

عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ، أَنَّ أَعْرَابِيًا بَالَ فِى الْمَسْجِدِ فَقَامُوْا إِلَيْهِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزِمُوْهُ ثُمَّ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصَبَّ عَلَيْهِ (رواه البخاري ومسلم)

Dari Anas bin Malik ra berkata: Seorang Badwi kencing di dalam masjid, maka para sahabat bangun untuk memukulnya. Maka Rasulullah saw bersabda: Jangan kalian mengganggunya, kemudian menyuruhnya membawakan setimba air dan dituangkan di atas tempat yang ia kencingi itu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw sangat santu kepada orang lain dan pembersih dalam setiap keadaan termasuk dalam membersihkan na’jis. Orang-orang yang pembersih dan suka kepada kebersihan akan diberikan ganjaran yang tidak terkira dan sungguh di luar dugaan besarnya.

Orang-orang yang suka bersuci dan berjalan dalam keadaan suci, tidur dalam keadaan suci dijamin oleh Allah swt bahwa ketika ia mati dalam keadaan masih suci, maka ia termasuk mati dalam keadaan syahid. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَامَ عَلَى وُضُوْءٍ فَأَدْرَكَهُ الْمَوْتُ فِى تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ شَهِيْدٌ (رواه الحاكم والترمزي)

Barang siapa tidur dalam keadaan berwudhu, kemudian ia mati pada malam itu, maka ia mati telah mati sayahid di sisi Allah swt”. (HR. Hakim dan Tirmidzi)

Betapa besar balasan bagi orang yang telah bersuci dari hadats kecil atau berwudhu’ dengan sempurna ketika akan tidur maupun ketika terjaga, ketika mati dalam keadaan masih wudhu’nya maka telah ditetapkan baginya termasuk mati dalam keadaan syahid. Sesungguhnya tidak ada balasan bagi orang-orang yang mati syahid kecuali surga.

Ketika ada orang yang tidak mendapatkan mati syahid ketika telah berwudhu dikarenakan ia masih diberikan panjang umurnya oleh Allah swt maka Allah memberikan ganjaran lain berupa kebaikan-kebaikan dan pahala. Sejalan dengan hadits di atas bahwa setiap orang yang berwudhu’ akan diberikan ganjaran pahala sampai sepuluh kebaikan. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ (رواه أبوا داود والترمذي وابن ماجه وابن عمر)

Barang siapa berwudhu’ dalam keadaan suci dari hadats, ditetapkan baginya sepuluh kebaikan”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Umar)

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللَّهِ لِيُقْضَي فَرِيْضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَخُطُّ خَطِيْئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً (رواه مسلم)

Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian menuju salah satu masjid untuk menunaikan shalat fardhu, maka langkahnya-langkahnya yang satu menghapus dosa dan yang lainnya mengangkat derajat”. (HR. Muslim)

Selain bersuci mendatangkan pahala, di sisi lain ada ancaman bagi orang yang tidak berwudhu’ ketika melaksanakan shalat. Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ (رواه البخاري ومسلم وأبوا داود والترمذي وابن ماجه)

Allah swt tidak akan menerima shalat salah seorang di antara apabila ia berhadats hingga ia berwudhu’”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا وُضُوْءَ لَهُ وَلَا وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ (رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه)

Tiada shalat bagi siapa yang tidak berwudhu’ dan tiada wudhu’ bagi siapa yang tidak menyebut nama Allah ketika melakukannya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud,dan Ibnu Majah)

Ancaman dalam hadits di atas ditujukan bagi orang yang enggan berwudhu’ dan berwudhu’ asal-asalan yang tidak sempurna dalam wudhu’nya. Shalat seseorang yang dikerjakan tanpa berwudhu’ maka tidak sah, karena telah meninggalkan sebagian syarat sah shalat serta wudhu’ yang dilakukan tanpa membaca basmalah dianggap tidak pernah berwudhu’ walaupun membaca basmalah itu bukan termasuk rukun wudhu’.

Kesimpulannya bahwa fungsi bersuci atau membersihkan diri bagi seorang muslim adalah sebagai berikut:

  1. Bersuci merupakan bagian dari keimanan seseorang.

  2. Berlaku bersih dan suka kepada kebersihan dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Besarnya ganjaran bagi orang yang suka membersihkan diri seperti hadiah syahid baginya.

  4. Orang yang membersihkan dirinya diberikan ganjaran sepuluh kebaikan.

  5. Orang yang membersihkan dirinya untuk menunaikan ibadah di masjid diberikan ganjaran berupa satu langkah sebagai penghapus dosa dan langkahnya yang lain sebagai pengangkat derajatnya.

  6. Orang yang enggan membersihkan dirinya ibadahnya ditolak atau dianggap tidak melakukan ibadah sekalipun.