hubungan alquran dan hadis

 A. Fungsi Hadis Terhadap Al-Qur’an

Fugsi hadis pada umumnya adalah menjelaskan kitabulah (Al-Qur’an). Sebagai penjelas hadis memiliki bermacam-macam fungsi. Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan ada empat macam fungsi hadis terhadap Al-Qur’an yaitu:

1. Bayan ta’kid

Bayan at-ta’kid disebut juga bayan taqrir atau bayan al-isbat. Yaitu menetapkan dan memperkuat apa yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

2. Bayan at-tafsir

Bayan at-tafsir artinya memberikan perincian dan penafsian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mujmal (global), memberikan taqyid (persyaratan) terhadap ayat-ayat yang masih mutlaq dan memberikan takhshih (penentuan khusus) terhadap Al-Qur’an yang masih umum.

3. Bayan at-tasyri

Bayan at-tasyri’ artinya mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam Al-Qur’an.

4. Bayan an-naskh

An-naskh memiliki beberapa arti antara lain: al-ibthal (membatalkan), al-ijalah (menghilangkan), at-tahwil (memindahkan), atau at-taqyir (mengubah). Jadi bayan nasakh adalah dalil syara’ yang dapat menghapuskan ketentuan yang telah ada karena dalilnya datang belakangan[1].

2. Perbedaan Al-Qur’an dan Hadis Qudsi

Ada beberapa perbedan antara Al-Qur’an dan hadis Qudsi, antara lain sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an adalah mukjizat nabi Muhammad saw, sedangkan hadis Qudsi bukan termasuk mukjizat
  2. Membaca Al-Qur’an termasuk ibadah karena diwajibkan dalam salat, sedangkan membaca hadis Qudsi bukan termasuk ibadah.
  3. Al-Qur’an hanya dinisbatkan kepada Alla swt, sehingga dikatakan Allah swt berfirman. Adapun hadis Qudsi diriwayatkan dan disandarkan kepada Allah swt.
  4. Seluruh isi Al-Qur’an dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya mutlak. Adapun hadis Qudsi kebanyakan adalah kabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan (kadang hadisnya sahih, hasan atau dhaif).
  5. Al-Qur’an lafalnya dan maknanya dari Allah. Sedangkan hadis Qudsi maknanya dari Allah dan lafalnya dari rasulullah saw[2].

3. Manuskrip Al-Qur’an dan Al-Qur’an Nusantara

Berikut ini beberapa manuskrip Al-Qur’an dan Al-Qur’an di Nusantara, antara lain:

  1. Manuskrip Al-Qur’an tertua di perpustakaan barat masjid agung (Al-Jami’ Al-Kabir) Sana’a Yaman (gambar terlampir).
  2. Mushaf Wonosobo sumbangan H. Harmoko (Menteri Penerangan RI), 1992 (gambar terlampir).
  3. Mushap pusaka gagasan Ir. Soekarno yang ditulis oleh H. Salim Fachry, guru besar IAIN Jakarta, dimulai pada 17 Ramadhan 1367 H (23 Juni 1948) (gambar terlampir).
  4. Mushaf Standar Indonesia” terbitan Sa’diyah Putra, Jakarta, 1985 (gambar terlampir).
  5. Mushap Al-Qur’an tua dari Malang (gambar terlampir).
  6. Mushap Al-Qur’an tua dari Pontianak (gambar terlampir).
  7. Mushap Al-Qur’an tua dari Jombang Jawa Timur (gambar terlampir).
  8. Tanda tashih Al-Qur’an Nusantara dari masa ke masa (gambar terlampir).

 

[1] Nur Kholis. Ibid. hlm. 224-231

[2] Ibid. hlm. 183-184