الحمد لله الملكِ القادرِ الحليمِ السّاتِرِ. الذي ليس لابتدائهِ اَوَّلٌ ولا لِانْتِهَائِهِ اَخِرٌ. اشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كرها الكافرون. واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله سيد الاولون والاخرون. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ومولانا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين. اما بعد. فيا عباد الله اوصيكم واياي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال الله تعالى: وقال ربكمُ ادعوني أستجبْ لكم ِانّ الذين يستكبرونَ عَنْ عبادتي سَيَدْخُلون جهنمَ داخرين. صدق الله العظيم…

Sebagai seorang hamba tentu dan pasti membutuhkan pertolongan kepada tuhannya, hal ini menunjukkan bahwa manusia sangat bergantung kepada penciptanya. Kenyataannya tidaklah cukup usaha yang dilakukan seorang manusia tanpa restu Allah yang mewujudkannya. Di sinilah peran sebuah do’a untuk meraih ridho Allah dengan kasih sayangnya terhadap seorang hamba.

Manusia melakukan permohonan melalui do’anya menandakan bahwa ia adalah makhluk lemah yang tidak mampu mewujudkan keinginannya, dan yang berarti pula bahwa hanya Allah-lah satu-satunya zat yang mamapu mewujudkan segala harapan dan do’a semua makhluknya. Oleh karenanya manusia diperintahkan berdo’a kepada Allah swt.

Setelah melakukan do’a, seorang hamba terkadang tidak menemukan perwujudan dari do’anya, dengan kata lain do’anya tidak terkabulkan. Terkadang kita pun bingung, kenapa do’a saya tidak dikabulkan. Mungkin ada yang salah dengan do’a kita, tata cara kita berdo’a, waktu yang tepat untuk berdo’a dan hal-hal yang mungkin dapat menghalangi do’a terkabulkan. Dalam hal ini kita akan ulas satu persatu:

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menghadapkan do’a kepada Allah adalah:

A. Adab atau etika ketika berdo’a

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berdo’a:

  1. Menghadap kiblat
  2. Dalam keadaan suci dari hadas besar maupun kecil
  3. Membaca hamdalah atau pujian, beristgfar, dan bersolawat
  4. Berdo’a dengan suara lembut dan penuh rasa takut kepada Allah swt
  5. Yakin dengan sepenuh hati bahwa do’anya akan dikabulkan

B. Waktu berdo’a

Adapun waktu yang paling baik untuk berdo’a adalah:

  1. Antara azan dan iqamat
  2. Menjelang waktu shalat dan sesudahnya
  3. Waktu sepertiga malam terakhir
  4. Sepanjang hari jumat
  5. Antara zuhur dan ashar, serta ashar dan magrib
  6. Ketika khatam membaca al-qur’an
  7. Ketika turun hujan
  8. Ketika melakukan tawaf
  9. Ketika menghadapi musuh di medan perang, serta
  10. Dalam berdo’a sebaiknya diulang 3 kali

C. Tempat untuk berdo’a

  1. Di depan dan di dalam ka’bah
  2. Di masjid rasulullah saw
  3. Di belakang maqam nabi Ibrahim as
  4. Di depan hajar aswad
  5. Di atas bukit safa dan marwah
  6. Di Arafah, Muzdalifah, dan Di Mina,
  7. Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti di masjid, mushalla, atau tempat-tempat suci lainnya.

D. Sebab-Sebab Tidak Terkabunya Do’a

Setelah menjalankan syarat tersebut, namun do’a kita masih ditolak, maka ada hal yang menghalangi do’a kita dikabulkan antara lain:

  1. Selalu melakukan perbuatan dosa
  2. Memutuskan tali silaturrahmi dan suka bermusuhan
  3. Durhaka kepada orang tua dan guru
  4. Tidak khusyu’ ketika memanjatkan do’a
  5. Tidak yakin do’anya diterima
  6. Suka makan atau minum sesuatu yang diharamkan serta suka berpakaian dengan hasil usaha yang diharamkan.

 

Dari beberapa uraian tersebut, kita mengetahui kelamahan kita ketika memanjatkan do’a kepada Allah swt, ternyata yang paling sering kita lakukan adalah selalu melakukan perbuatan dosa, suka makan atau minum sesuatu yang diharamkan serta suka berpakaian dengan hasil usaha yang diharamkan. Dalam sebuah kisah dijelaskan tentang tertolaknya doa Ibrahim bin Adham:

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju masjidil Aqsa.

4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di masjidil Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba-tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya. “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu. “Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya Ibrahim. “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu. “Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”. Lantas Ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata Ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”. “Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas namakan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.” “Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui mereka. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain.” “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.” “Oleh sebab itu hendaknya kita berhati-hatilah dengan makanan yang masuk ke tubuh kita.

 

Itulah beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika menghadapkan do’a kita kepada Allah swt semoga kita dapat mengamalkannya dengan baik sehingga do’a-do’a dan harapan kita dapat terwujud. Amin Allahumma amin.

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل الله منا ومنكم تلاوته انه هو الغفور الرحيم