pintu surga

Warning! Jangan divonis sebelum habis dibaca!

Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tau kalau sarah habis bertengkar dengan suaminya. Meski heran, karena biasanya Sarah hanya menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya. Ayah sarah yang juga keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya.

Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan suaminya tadi malam. Sarah kecewa karena suaminya telah membohonginya selama ini. Sarah menemukan rekening suaminya jatuh di dalam mobil. Sarah baru tahu kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama. Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama. Berarti sudah setahun lebih, suaminya membagi uangnya, setengah untuk Sarah, dan setengahnya untuk orang lain. Jangan-jangan ada wanita lain?

Ayah Sarah hanya menghela nafas panjang, wajah bijaknya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah, sembari memberikan nasehat kepada anaknya dan berkata:

Sarah…yang pertama, langkahmu ke rumah ayah sudah dilaknat Allah dan para malaikatnya, karena kamu meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu. Kalimat ayah sontak membuat Sarah kebingungan. Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.

Kedua, mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya. Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu, itu pun untuk kebutuhan rumah tangga. Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa seizin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tidak dibenarkan.

Sarah…, suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita. Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama. Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang memilikinya. Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu. Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu..mata ayah mulai berkaca-kaca.

Sarah…kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu. Jika suamimu ridho padamu, maka Allah pun ridho. Namun suamimu hanya wajib taat kepada ibunya. Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya. Jangan sampai kamu menjadi penghalang bakti suamimu kepada ibundanya. Suamimu dan harta suamimu adalah milik ibunya. Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.

Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan. Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa, dan kini anak laki-lakinya menikah, ia melepaskannya begitu saja. Selanjutnya anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya, bekerja untuk keluarga barunya, mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya. Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. Sebulan sekali, atau bahkan setahun sekali, itu pun kalau ada kesempatan.

Kamu  yang sejak awal menikah dengannya tidak suka dengan ibu mertuamu…kenapa? karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur di sana. Sarah…mendengar ini ayah sakiiit sekali. Lalu jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana, bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal di sana?. Uang itu diberikan suamimu untuk ibunya. Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan. Dari uang itu ibu suamimu hanya memakai secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang yang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji d kampung itu, lanjut ayahnya.

Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suamimu sering kamu keluhkan kurang. Karena Sarah butuh pakaian yang berbeda untuk mengantar jemput anak sekolah. Sarah juga menjaga penampilan untuk merawat tubuhmu di spa. Berjalan-jalan setiap minggu di mall. Juga berkumpul sesekali dengan teman di restoran.

Sarah menyesali sikapnya yang tidak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan. Tukang gorengan yang berhasil menjadikan suaminya seorang sarjana, mendapatkan pekerjaan yang diidam-idamkan banyak orang, berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa digunakan setipa hari. Ayah…..maafkan Sarah! Tangis Sarah meledak. Sementara ibunda sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluknya.

Sarah…kembalilah ke rumah suamimu! Ia orang baik nak. Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya. Bantulah suamimu menggapai surganya, dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga. Ibunda sarah membisikkan  kalimat itu ke telinga Sarah. Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya. Bathinnya sakit, menyesali sikapnya.

Sarah pun pulang menghadap suaminya dan sambil menangis memohon maaf kepada suaminya atas prasangka yang salah selama ini. Selanjutnya pada hari berikutnya Sarah mengikuti suaminya bersilaturrahmi kepada orang tua suaminya (mertua Sarah). Suaminya meneteskan air mata menatap istrinya yang di tangan istrinya tertenteng 4 liter minyak goreng untuk mertuanya. Tetsan air mata suami bukan masalah jumlah liternya, tapi karena perubahan istrinya yang senang dan nampak ikhlas hendak datang kepada orang tuanya atau mertua istrinya.

Sesekali waktu, Sarah bukan mengajak suaminya ke mall tapi minta anjangsana ke rumah mertuanya dan juga orang tuanya. Subhanallah…

(Dikutip dari kiriman salah seorang teman di WA, tanggal 21 Januari 2018)