macam macam najis

Na’jis dibagi menjadi tiga macam yaitu:

1. Na’jis mughallazah

Na’jis mughallazah artinya na’jis berat. Na’jis ini bersumber dari anjing dan babi. Apabila seseorang terkena jilatan anjing, atau perabotannya terkena jilatan anjing, menginjak kotoran anjing, tersentuh anjing dalam keadaan basah, maka wajib disucikan dengan tujuh kali basuhan yang salah satunya menggunkan talah yang suci.

Suatu contoh, apabila ada seekor anjing kawin dengan hewan selainnya, kambing misanya, kemudian melahirkan anak kambing, maka stautus kambing yang lahir dari perkawinan keduanya adalah na’jis mughallazah. Begitu juga dengan babi, apakah babi itu secara murni kawin dengan babi, atau kawin dengan hewan lain, kemudian melahirkan hewan berjenisnya sendiri atau hewan yang halal dimakan, maka status anaknya adalah na’jis mughallazah.

Menyucikan na’jis mughallazah adalah dengan mengambil air kemudian membasuhnya satu kali pada tempat yang terkena na’jis mughallazah, kemudian basuhan kedua dicampur dengan tanah yang suci, selanjutnya pada basuhan yang keempat, kelima, keenam, dan ketujuh dengan air.

Adapun hadits yang menjelaskan tentang tata cara menyucikan na’jis mughallazah dapat dicermati dalam sabda Rasulullah saw berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ  الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا شَرِبَ الْكَلْبَ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ (رواه بن مالك)

Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Apabila ada anjing minum pada bejana salah seorang diantara kalian, maka cucilah (basuhlah) tujuh kali.” (HR. Ibnu Malik)

2. Na’jis mutawassithah

Na’jis mutawassithah artinya pertengahan. Na’jis ini bersumber dari kotoran sehari-hari seperti darah, nanah, air kencing, tinja (tahi), dan sebagainya. Kotoran yang disebutkan tersebut berlaku untuk kotoran manusia, sapi, kuda, kerbau, kambing, ayam, dan sebagainya. Termasuk dalam na’jis mutawassithah air kencing bayi wanita yang baru lahir, kanak-kanak, atau dewasa.

Na’jis mutawassithah dibagi menjadi dua macam yaitu: Pertama, na’jis hukmiyah adalah na’jis yang diyakini adanya tetapi tidak nyata wujudnya, bau, dan rasanya. Cara menyucikan na’jis ini adalah cukup dengan mengalirkan air yang suci pada tempat yang terkena na’jis. Kedua, Na’jis ainiyah adalah na’jis yang nyata zat, bau, dan rasanya. Cara menyucikan na’jis ainiyah adalah cukup dengan menghilangkan zat na’jisnya, rasanya (kesatnya), dan baunya dengan menggunakan air yang suci.

3. Na’jis mukhaffafah

Na’jis mukhaffafah artinya na’jis ringan. Sumber na’jis ini adalah dari air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum makan sesuatu pun selain air susu ibunya (ASI). Jika seorang bayi menyusui bukan pada ibunya melainkan menyusu dengan susu formula maka status air kencingnya bukan lagi na’jis ringan tetapi na’jis mutawassithah melainkan na’jis sedang. Begitu juga bayi yang belum berumur dua tahun tetapi telah mulai mengkonsumsi makanan pendamping asi, maka status air kencingnya bukan lagi na’jis ringan tetapi na’jis mutawassithah tetapi na’jis sedang.

Cara menyucikan na’jis mukhaffafah (ringan) adalah cukup dengan memercikkan air (mengalirkannya) pada tempat yang terkena na’jis dengan air yang suci.