Adapun syarat-syarat yang membolehkan seseorang untuk bertayammum adalah sebagai berikut:

1. Adanya halangan (uzur untuk memakai air) disebabkan musafir atau sakit.

Orang yang musafir dapat meninggalkan pemakaian air jika dalam musafir itu tidak menemukan air yang akan dipakai untuk bersuci (mandi atau wudhu’). Contoh, jika seseorang di pesawat kemudian tidak ada air untuk berwudhu’ atau musafir ke daerah yang jarang ada air, maka boleh bertayammum. Namun, jika masih ada air, maka tayammum tidaklah dibolehkan.

Orang yang sakit dan dilarang oleh dokter menggunakan air karena penyakitnya. Apabila ia menggunakan air, maka penyakitnya akan bertambah parah, bahkan akan berujung pada keadaan membahayakan, maka tayammum adalah jalan keluar untuk bersucinya. Namun, jika masih dalam tahap sakit biasa yang masih dibolehkan oleh dokter atau masih bisa menggunakan air yang tidak mengakibatkan keadaan semakin memburuk, maka tayammun tidak dibolehkan.

2. Masuknya waktu shalat

Tayammum untuk shalat fardhu dilakukan apabila waktu shalat telah tiba. Jika waktu shalat belum masuk dan masih memungkinkan untuk mencari air (bagi orang yang musafir), maka tayammun yang akan digunakannya untuk shalat fardhu itu tidak sah. Bagi orang yang uzur karena penyakitnya, maka bertayammumnya setelah masuk waktu shalat fardhu. Adapun tayammum yang dibolehkan dalam waktu yang bebas adalah tayammum yang digunakan untuk keperluan shalat sunnah atau bersuci sebagai ganti mandi wajib.

3. Harus mencari air sampai masuk waktu shalat

Seseorang wajib mencari air untuk berwudhu’ (bersuci dari hadats kecil) dan mandi (jika menanggung hadats besar) sebelum masuknya waktu shalat sampai tibanya waktu shalat. Apabila ada sekompok orang berjalan, kemudian tidak menemukan air setelah mereka mencari air secara berpencar sedangkan waktu shalat telah tiba, maka dibolehkan untuk bertayammum.

4. Terhalang memakai air

Terhalangnya seseorang memakai air karena adanya bahaya besar yang akan dideritanya seperti dalam keadaan perang. Mereka hendak memakai air, tetapi tempat air itu dkuasai oleh musuh dan persediaan airnya tidak mencukupi untuk keperluannya minum atau bersuci dari na’jis (cebok), maka boleh bertayammum.

Termasuk terhalang memakai air bagi orang yang memperoleh air dengan mempertaruhkan nyawa jika melakukannya, karena tempat adanya air itu banyak binatang buas yang berkeliaran dan mempertahankan tempat air itu dari gangguan manusia maupun bianatang lain.

5. Harus ada debu yang suci lagi kering

Bertayammum harus memakai debu yang kering dan suci. Boleh mengambil tanah yang suci dengan cara menggalinya beberapa centimeter dari permukaan, mengambil debunya, kemudian dikeringkan. Debu yang bercampur dengan pasir tidaklah dibenarkan memakainya menurut mazhab Syafi’i. Adapun debu yang sudah terpakai tidak boleh dipakai lagi untuk bertayammum walaupun itu suci (tidak pernah terkena na’jis).