Cara Bersuci

Hadats dibagi menjadi dua macam yaitu hadats besar dan hadats kecil. Hadats besar adalah hadats yang menyebabkan seseorang diwajibkan untuk mandi wajib. Sedangkan hadats kecil adalah hadats yang menyebabkan seseorang wajib berwudhu’ ketika hendak melakukan shalat, thawaf atau memegang mushaf (Al-Qur’an).

Adapun sebab-sebab seseorang menanggung hadats besar (yang menyebabkannnya wajib melakukan mandi wajib) adalah sebagai berikut:

Bersetubuh (berhubungan suami istri).

Bersetubuh merupakan masuknya kelamin laki-laki ke dalam kelamin perempuan pada hubungan intim, walaupun yang masuk sekedar hasyafah (kepala penis) saja atau hanya sekedar kira-kira bagi laki-laki yang tidak memiliki kepala penis. Masuknya penis ke dalam vagina baik mengeluarkan air mani atau tidak maka wajib baginya mandi.

Wajib mandi bagi orang yang bersetubuh sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah ra. yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَ رَسُوْلَ اللَهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا (رواه بن ماجه)

Dari Aisyah ra. istri Nabi saw ia berkata: Apabila dua kemaluan telah bertemu, maka wajib mandi. (Sebagaimana) yang telah aku lakukan bersama Nabi saw, kemudian kami mandi.” (HR. Ibnu Majah)

Keluar mani

Air mani yang keluar dari seorang manusia baik karena sengaja atau tidak sengaja, bersyahwat atau tidak maka wajib mandi baginya. Keluar mani karena bersetubuh, onani (mengeluarkan air mani dengan bantuan tangan atau lainnya), memandang sesuatu yang menyebabkan nafsunya melonjak, atau karena bermimpi, maka wajib mandi baginya.

Wajib mandi bagi laki-laki atau permepuan yang bermimpi kemudian mengeluarkan air mani, apalagi tidak bermimpi. Dalam hadits ini dijelaskan tentang wajibnya mandi sesorang yang mengeluarkan mani:

عَنْ أُمِّ سَلَامَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنَّهَا قَالَتْ جَائَتْ أُمِّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِيْ طَلْحَةَ إِلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَايَسْتَحْيِيْ مِنَ الْحَقِّ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ (رواه البخاري)

Dari Ummu Salamah ra Ummul Mukminin ia berkata: Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah datang kepada Rasulullah saw dan berkata, Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak malu dengan kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila ia bermimpi?. Maka Rasulullah saw menjawab: Ya, jika ia melihat air (mani).” (HR. Bukhari)

Mati

Mati menyebabkan seseorang wajib mandi layaknya mandinya seseorang yang mandi junub. Orang mati yang wajib mandi adalah orang yang wafatnya normal, dapat dimandikan mayitnya, dan tidak termasuk mati syahid.

Haidh

Darah haidh adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita dalam keadaan sehat, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, bukan karena nifas, bukan karena melahirkan, dan keluar pada hari biasa keluarnya. Perempuan yang selesai haidhnya maka wajib mandi banginya. Darah haidh berwarna hitam kemerah-merahan dan jika keluar rasanya agak perih. Wanita dapat mengalami haidh ketika umurnya telah sampai sembilan tahun atau lebih, tergantung keadaan wanita tersebut.

Dalam hadits Aisyah ra dijelaskan tentang haidh yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ اغْتَسِلُ مِنَ الْمَحِيْضِ قَالَ خُذِيْ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَوَضَّئِيْ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيَا فَأَعْرَضَ بِوَجْهِهِ أَوْ قَالَ تَوَضَّئِيْ بِهَا فَأَخَذْتُهَا فَجَذَبْتُهَا فَأَخْبَرْتُهَا بِمَا يُرِيْدُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخاري)

Dari Aisyah ra: Seorang wanita anshar bertanya kepada Nabi saw, bagaimana caranya aku bersuci dari haidh? Lalu beliau menjawab: Ambillah sepotong kapang yang diberi wewangian lalu bersihkanlah tiga kali. Kemudian Nabi saw merasa malu dan memalingkan wajahnya, atau beliau mengatakan: Berwudhu’lah dengan kapas itu. Kemudian aku(Aisyah) tarik wanita itu dan aku terangkan apa yang dimaksud oleh Rasulullah saw.” (HR. Bukhari)

Sekurang-kurang masa haidh itu adalah sehari-semalam. Normalnya darah haidh itu keluar selama tujuh hari atau satu minggu. Maksimal dikatakan darah haidh jika telah keluar selama dua minggu atau lima belas hari. Perempuan yang mengalami haidh lebih dari 15 hari, maka wajib mandi pada hari yang ke-16, karena darah yang keluar setelah itu dinamakan darah istihadhah. Darah istihadhah adalah yang keluar dari rahim perempuan karena adanya penyakit. Selanjutnya paling sedikitnya waktu antara dua haidh wanita itu adalah lima belas hari, namun untuk ketentuan banyaknya (lamanya) tergantung dari keadaan wanita tersebut.

Adapun hal-hal yang diharamkan bagi orang yang sedang haidh adalah shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, memegang Al-Qur’an atau membawanya, masuk masjid, thawaf, bersetubuh, dan bercumbu-cumbu antara pusar dan lutut (daerah kemaluan).

Nifas

Darah nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan eorang perempuan disebabkan melahirkan atau mengiringi keluarnya anak. Perempuan yang selesai keluar darah nifasnya wajib mandi. Sedikit atau banyaknya darah nifas bagi perempuan yang melahirhan itu bervariasi, termasuk masanya. Darah nifas itu paling kurang sebentar yang dihitung sehari. Normalnya darah nifas itu keluar selama 40 hari. Maksimalnya darah nifas itu keluar selama 60 hari (dua bulan). Jika darah masih keluar setelah 60 hari, maka darah tersebut dikategorikan darah istihadhah, dan wajib mandi pada hari yang ke-61 dan dibolehkan untuk melaksanakan shalat dengan satu sahalat satu kali wudhu’.

Masalah kewajiban mandi bagi wanita yang melahirkan dan nifas dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ نُفِسَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ بِمُحَمَّدِ بْنِ أَبِيْ بَكْرٍ بِالشَّجَرَةِ فَأَمَرَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا بَكْرٍ يَأْمُرُهَا أَنْ تَغْتَسِلَ وَتُهِلَّ (رواه مسلم)

Dari Aisyah ra ia berkata: Asma binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar di dekat suatu pohon (di Dzul Hulaifah), lalu Rasulullah saw memerintahkan Abu Bakar ra agar menyuruh Asma mandi kemudian berihram.” (HR. Muslim)

Melahirkan

Melahirkan adalah salah satu sebab mandi wajib bagi perempuan. Ketika keluarnya anak dari rahim, baik diserta dengan air ketuban atau tidak. Adapun melahirkan yang tidak disertai dengan basah-basah yang keluar, maka tetap diwajibkan mandi.

Jika seseorang mengalami salah satu dari enam sebab di atas maka diwajibkan mandi wajib. Mandi wajib sering juga disebut mandi junub atau mandi besar. Adapun rukun-rukun mandi wajib itu ada tiga yaitu:

Niat

Wajib bagi orang yang akan mandi junub untuk berniat mengangkat hadats besar. Bagi orang yang haidh, nifas, atau wiladah wajib berniat mengangkat atau menghilangkan kotoran haidh, nifas, dan wiladahnya. Lafaz niat mandi wajib secara umum adalah:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ عَنْ جَمِيْعِ الْبَدَنِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Aku berniat mandi untuk mengangkat hadats besar dari seluruh badanku fardhu karena Allah ta’ala”.

Niat mandi wajib bagi wanita yang sudah selesai haidhnya adalah:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَيْضِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Aku berniat mandi untuk mengangkat haidh fardhu karena Allah ta’ala”.

Niat mandi wajib bagi wanita yang sudah selesai nifasnya adalah:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ النِّفَاسِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Aku berniat mandi untuk mengangkat nifas fardhu karena Allah ta’ala”.

Niat mandi wajib dilakukan ketika mengguyurkan air di kepala. Jika seseorang berniat mandi wajib sesudah adanya beberapa basuhan, maka wajib mengulang membasuh bagian yang sudah terlanjur dibasuhnya. Namun jika seseorang tidak pernah berniat ketika mandi wajib, maka mandinya tidak sah, yang berarti bahwa ia wajib mandi ulang yang disertai niat mengangkat hadats besar.

Menghilangkan na’jis

Menghilangkan na’jis yang ada pada badan termasuk rukun mandi wajib. Jika seseorang mandi wajib sedangkan na’jis masih menempel pada anggota tubuhnya, maka wajib mengulangi mandinya.

Menyampaikan air ke seluruh rambut dan anggota badan

Menyampaikan air ke seluruh rambut dan anggota badan adalah wajib bagi orang yang mandi besar (mandi wajib), maka tidaklah sah mandi seseorang yang masih ada anggota badannya yang belum terkena air disebabkan sesuatu yang menghalangi masuknya air ke dalamnya, seperti bekas cat yang masih menempel pada badan atau benda-benda lain yang sejenisnya. Termasuk tidak sah mandi seseorang yang mempunyai tato pada tubuhnya karena akan menghalangi air masuk ke dalam pori-pori. Tato jenis tinta yang permanen maupun tinda yang tidak permanen statusnya sama selama masih menempel di tubuh maka mandinya tidak sah.

Masalah wajib membasuh rambut yang tebal, jarang, atau tidak punya rambut sama sekali statusnya adalah sama. Termasuk wajib membasuh lipatan-lipatan tubuh yang sulit dijangkau air seperti telinga, kulit di bawah kuku, sela-sela jari kaki, dan lainnya.

Adapun amalan sunah yang dikerjakan ketika mandi wajib adalah sebagai berikut:

  1. Membaca basmalah
  2. Berwudhu’ sebelum mulai mandi
  3. Mengosok-gosokkan tangan di atas badan
  4. Mendahulukan anggota badan yang sebelah kanan kemudian yang kiri
  5. Berturut-turut